Website Rakyat Bersuara

Ada Dinasti di Kampus PTIQ Setelah 4 Periode Rektor Berkuasa

Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta adalah kampus Study Al-Qur’an dengan kultur budaya mempelajari ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keIslaman lainya, berdirinya kampus PTIQ Jakarta sejak tahun 1971 sebagai perguruan tinggi pertama di dunia dalam membina para ahli Al-Quran untuk menjadi pemimpin bangsa. Pada generasi awal berdirinya Institut PTIQ Jakarta, banyak sekali para alumni yang berhasil menjadi tokoh-tokoh besar di negeri ini.

Suasana Kampus Kecil PTIQ dengan Fasilitas yang ada # 2019 Ganti Rektor PTIQ Jakarta

Diantaranya ada beberapa alumni PTIQ yang menjadi rektor diluar kampus PTIQ, banyak juga alumni yang menjadi pendiri pesantren di berbagai daerah, menjabat di kursi pemerintahan, dan mengabdikan dirinya untuk menjadi pengajar di Institut PTIQ Jakarta. Tentu semua hasil kerja keras itu tidak lepas dari konsep dan manajemen yang bagus yang dimiliki oleh seorang rektor dan pembantu rektor terdahulu, dibutuhkan komitmen yang kuat dalam membangun PTIQ Jakarta menjadi lebih baik, serta adanya keberlangsungan struktur pengurusan yang aktif dan keterbukaaannya birokrasi kepada semua pihak petinggi kampus.

Sejak tahun 2000-an, Institut PTIQ Jakarta, mengalami kemunduran karena banyaknya orang-orang pendatang dari berbagai alumni kampus luar (bukan alumni) yang tiba-tiba menduduki jabatan tinggi di Institut PTIQ Jakarta. Tanpa adanya seleksi penerimaan rektor secara demokrasi, Hal ini menjadikan posisi jabatan rektor sangat strategis untuk membesarkan kepentingan nama pribadi.

Dimana Rektor PTIQ Berada? #2019 Ganti Rektor PTIQ Jakarta

Disitulah terjadi nepotisme jabatan rektor dan dinasti primordial mulai muncul, adanya tanda-tanda kejahatan politik PTIQ mulai terlihat, parahnya lagi para petinggi kampus datang ke PTIQ hanya sekedar mencari kepentingan pribadi, dan mereka tidak peduli dengan kemajuan PTIQ. Yang lebih menghawatirkan lagi, rektor lebih mementingkan urusan pribadi untuk membesarkan namanya sendiri di luar sana, dan yang tidak kalah mengagetkan dunia birokrasi kampus, yang seharusnya menjadi contoh birokrasi dinegeri ini, Rektor PTIQ Jakarta sudah menguasai jabatan rektor hingga 4 periode.: Inilah Dinasti di Kampus Kami, PTIQ.

Mulai pada tahun 2005 Institut PTIQ Jakarta dipimpin oleh seorang professor alumni kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Prof. Nasaruddin Umar, M.A yang menjabat sebagai rektor sampai saat ini. Dan beliau adalah seorang PNS dari kementrian agama. Sudah sangat cukup lama sekali sebagai pemecah rekor muri jabatan rektor terlama di Institut PTIQ Jakarta bahkan mungkin di indonesia. Semenjak beliau menjabat hingga sampai sekarang. Institut PTIQ Jakarta, tidak mengalami perubahan yang nyata. Seperti halnya mahasiswa yang dibatasi mendaftar di kampus  PTIQ yang tiap tahunnya hanya berjumlah 600 orang, Kenapa pembatasan ini bisa terjadi? mungkin seluruh mahasiswa sudah mengetahui, belum Nampak adanya perluasan gedung kampus, seperti penambahan ruang kelas, perpustakaan yang tidak memadai dan sampai lahan parkir kampus yang tidak mencukupi yang membuat mahasiswa menumpang di depan warung makan. Mahasiswa mana yang tak ingin ada perubahan lebih baik untuk kampusnya? Kurang cukupkah dinasti 4 periode untuk berbenah?

Kampus PTIQ Jakarta, perlu adanya perubahan demi kemajuan Institut PTIQ Jakarta. Dengan meningkatnya jumlah permintaan  mahasiswa baru setiap tahunya di PTIQ Jakarta, tentu harus ada kesadaran dari semua petinggi kampus terutama bapak rektor yang namanya sudah tersohor diluar sana. Seharusnya bapak rektor mampu membuat kampus ini lebih baik lagi. Apalalgi, sampai saat ini beliau menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Jangankan gagasan besar, melihat rektor dikampus kamipun, hanya melalui siaran televisi. Bapak Kami Prof. Nasaruddin Umar, M.A. Dimanakah Engaku Berpijak? Sekali lagi, Bukankah 4 periode tak cukup membangun kampus kami? Bukankah sudah 4 periode nama bapak rektor tertulis di singgasana meja rektorat yang tak berpenghuni? Apakah baik bagi regenerasi kepemimpinan sebuah jabatan struktural selama 4 periode? tanpa adanya upaya perubahan yang nyata.

Kepemimpinan rektor PTIQ, dianggap gagal dan tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada di PTIQ, seperti halnya, kurang keterbukaannya sikap rektor dalam membawa nama PTIQ di luar kampus, yang hanya mementingkan urusan pribadi. rektor yang jarang hadir di kampus menjadikan masalah civitas akademik kampus PTIQ terkendala. Diantaranya sarana dan fasilitas kampus tidak terpenuhi, birokrasi yang tidak terkontrol dan banyak orang-orang yang sudah pensiun masih mendapatkan jabatan di kampus PTIQ. Ada juga yang merangkap jabatan diantaranya warek 1 dan banyaknya wakil-wakil rektor yang tidak peduli terhadap kemajuan kampus.

Terlalu banyaknya jabatan Prof Nasaruddin Umar, sehingga tidak terprioritaskan kampus PTIQ diantaranya jabatan Imam Besar Istiqlal, Guru Besar UIN Jakarta, kepala Yayasan Al-Ikhlas dan lain-lain. Kami melihat rektor membesarkan nama pribadi atas kepentingan Sebuah korporasi dan elit politik  serta menjual nama PTIQ sebagai pencintraan dirinya. Setelah berkuasa selama 4 periode ini belum terjadi perubahan yang baik. Rektor kami sudah terlalu lemah dan tua sehingga lupa akan usianya menjabat sebagai rektor di kampus kami, Institut PTIQ Jakarta.

Maka, kami sebagai Aliansi Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta mengingatkan kepada bapak Rektor Prof. Nasaruddin Umar, M.A untuk tutup jabatan rektor di Institut PTIQ Jakarta, dan mengingat usia pak rektor saat ini sudah 60 tahun. Sudah waktunya untuk bapak rektor pensiun dan turun jabatan dari kampus kami, Institut PTIQ Jakarta.

Hal ini berdasarkan peraturan Undang-Undang Pasal 239, 240 dan pasal 354 dan pasal 355 peraturan pemerintah No. 11 tahun 2017 tentang manajemen pegawai negeri sipil (PNS) telah di tentukan sebagai berikut:

  1. PNS yang telah mencapai batas usia pensiun diberhentikan dengan hormat sebagai PNS
  2. Batas usia pensiun sebagai mana dimaksud yaitu:
  3. 58 tahun bagi pejabat administrasi, pejabat fungsional ahli muda, pejabat fungsional ahli pertama dan pejabat fungsional keterampilan
  4. 60 tahun bagi pejabat pimpinan tinggi dan pejabat fungsional madya.

Kenyataan ini membuat Mahasiswa hari ini tidak diam. Bangkit sebagai pejuang demi membawa PTIQ menjadi lebih baik. Rektor tertidur dan terlalu kenyang rangkap jabatan sehingga lupa dengan dengan posisinya sebagai rektor. Kami meminta rektor PTIQ saat ini agar berhenti mengundurkan diri dari jabatannya.

Kami sebagai Aliansi Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta, mahasiswa sebagai agent of change menjaga dan membawa nama PTIQ agar menjadi lebih baik. sekali lagi kami tegaskan tuntutan kami:

  1. Kami meminta rektor PTIQ saat ini agar berhenti mengundurkan diri dari jabatannya.
  2. dan siap untuk memulangkan Prof. Nasaruddin Umar, ke tempat asalnya: kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  3. Memberhentikan nama-nama yang sudah harusnya pensiun menurut peraturan Undang-Undang.
  4. Menyelesaikan rangkap jabatan terhadap petinggi-petinggi kampus.

Dari KAMI untuk KITA Kampus Kebanggaan

Hidup Mahasiswa…!!!

Hidup Rakyat Indonesia…!!!

Salam Perubahan Menuju PTIQ menjadi Lebih Baik.

#2019 Ganti Rektor PTIQ Jakarta

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed