Website Rakyat Bersuara

Sosok Pemimpin BEM dalam membangun Kualitas IPTIQ Jakarta

Tanggal telah ditentukan,
Perjuangan harus tetap dilanjutkan
” Jakarta, (17/09/2019).

Manusia sebagai makhluk rasio, seharusnya dapat menentukan dimana perubahan itu tetap ada. Seiring dengan perjalanan waktu perubahan itu belum muncul dari sosok pemimpin yang tidak memiliki integritas dalam berorganisasi yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut PTIQ Jakarta.

Bertahun-tahun BEM Institut PTIQ Jakarta telah dikendalikan oleh sosok boneka yang hanya memikirkan bagaimana BEM melakukan perpolitikan di kampus tanpa disadari oleh mahasiswa.

Janji-janji telah diutarakan sewaktu ajang kontestasi pemilihan BEM Institut PTIQ Jakarta, namun perubahan tetap saja dalam kondisi vacuum of power. Kini, sudah saatnya kita sebagai mahasiswa harus bersikap bijak dalam menentukan siapa yang ideal untuk menduduki kursi BEM Institut PTIQ Jakarta.

Seperti kita ketahui, bahwasanya sudah ada 3 bakal calon presma terpilih. Dan kesemuanya mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari aktivis mahasiswa sampai kepada non aktivis mahasiswa, serta mahasiswa boneka dalam hal ini hanya mencari eksistensi semata.

Ingat No 3 #ODIK

Pertama, Apakah mau kita dipimpin seorang pemimpin yang hanya mementingkan eksistensi seorang diri? Lantas bagaimana nasib kita sebagai mahasiswa agent of change? Terlebih kepada kemajuan kampus Institut PTIQ Jakarta.

Sejarah telah mencatat rekam jejak pemimpin yang tidak memiliki integritas dalam membangun kemajuan Institut PTIQ Jakarta, selama ini mahasiswa tertidur tidak menyadari efektivitas BEM dalam menjalankan program visi dan misi Institut PTIQ Jakarta. Bobrok! Tidak ada kemajuan sama sekali!

Kedua, sebagai seorang pemimpin tentunya harus memiliki progresif dalam memimpin sebuah organisasi tidak hanya mencari eksistensi semata. Perlu dipersiapkan pemimpin ideal sebagai acuan dalam kontestasi ajang pemilihan BEM Institut PTIQ Jakarta. Sosok pemimpin harus Ideal! Bersinergi membangus Institut PTIQ Jakarta.

Pemimpin harus mempunyai kapasitas diri yakni pemimpin yang aktif dalam berorganisasi, tidak abu-abu. Sosok pemimpin, harus bisa memilih sedari awal dimana ia akan berproses menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Tidak labil atau bahasa lainnya abu-abu. Kita tidak mau mempunyai seorang pemimpin yang hanya mencoba-coba dalam kursi pimpinan. Ia harus memiliki jati diri tentunya menjadi aktivis di kampus PTIQ Jakarta. Ingat harus aktivis mahasiswa!

Ketiga, sosok pemimpin ideal adalah mereka yang mempunyai daya intelektual tinggi, tidak hanya intelektual tinggi tetapi aksi nyata dari sebuah intelektual pun harus dimiliki. Agar mereka tidak termasuk manusia-manusia yang hanya ber-onani intelektual saja. Mahasiswa agen of control, dan kampus telah mewadahi itu! Pergerakan dan perubahan kampus ditentukan oleh pemimpin tertinggi dalam mahasiswa, yakni BEM. Satu lagi, mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Sudah selayaknya jika ada problematika yang terjadi dalam masyarakat tentunya turut andil turun kejalan, tidak apatis semata.

Lihat Visi dan Misi calon Presma dan Cawapresma

PTIQ Bersinergi Ingat No 3 #ODIK

Ingat! Mahasiswa ideal dan progresif ingat ODIK. Jangan salah pilih ya kawan.

Ingat perubahan, Ingat nomer 3
Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia!

Penulis : Abdullah Kafabihi (Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta)

2 comments

  • Good lanjutkan terus, boneka berbicara tentang boneka…

    Apalah daya yang memimpin ingin melanjutkan berkuasa, yang haus kekuasaan sangat ingin duduk di tahta itu, apakah mungkin anda menggunakan jurus acak” suara yang ada di kotak suci dengan segenap kekuatan yang telah anda bangun!? Kami mahasiswa abu-abu akan senantiasa mengawal pemira!!!! Salam abu-abu demi terlahirnya ptiq yang tidak pasif!!

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed