MOROWALI – Jasa konsultansi yang direncanakan Pemkab Morowali tahun 2026 didominasi perusahaan dari luar daerah. Data LPSE Morowali per Juli 2026 mencatat, dari total 131 paket senilai Rp22,33 miliar, hanya 9,8% yang dimenangkan perusahaan asli Morowali.
Perusahaan luar Morowali menyapu Rp16,63 miliar atau 74,5% dari total pagu. Jumlah paketnya mencapai 74 paket.
Sementara perusahaan asli Morowali hanya mendapat 34 paket senilai Rp2,19 miliar. Sisanya Rp3,51 miliar untuk 23 paket belum teridentifikasi asal perusahaannya.
Tingkat “kebocoran” anggaran untuk paket yang teridentifikasi mencapai 88,4%. Artinya, hampir 9 dari 10 rupiah anggaran konsultansi keluar dari Morowali.
Data bersumber dari SPSE INAPROC/LPSE morowalikab. Total pagu yang dihitung adalah Rp22,33 miliar.
Kondisi ini kembali menyoroti persoalan keberpihakan pengadaan barang dan jasa terhadap pelaku usaha lokal di Morowali. Padahal, daerah dengan kawasan industri besar itu diharapkan bisa menjadi tuan rumah di daerah sendiri.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari LPSE Morowali maupun Pemkab Morowali terkait langkah untuk meningkatkan keterlibatan perusahaan lokal dalam tender konsultansi.(*)


