MOROWALI – PT Rezky Utama Jaya (RUJ) akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan mengenai kondisi debu tebal di wilayah operasional perusahaan di Desa Nambo, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, yang sebelumnya dikeluhkan warga dan disorot oleh FORBES Morowali.
Melalui Legal Officer PT RUJ, Ana Karmelia, perusahaan menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengabaikan persoalan debu sebagaimana kesan yang dapat ditimbulkan dari pemberitaan yang beredar tersebut. Menurutnya, pengendalian debu justru menjadi salah satu fokus utama perusahaan selama beroperasi.
Menurut Ana, perusahaan selama ini secara rutin dan konsisten melakukan berbagai upaya nyata untuk mengendalikan debu yang berasal dari aktivitas operasional pengolahan batu kapur. Upaya tersebut meliputi penyiraman area secara rutin, pemasangan blower atau sistem penyemprotan air di titik-titik rawan debu, penutupan pada bagian crusher dan mesin screening agar debu tidak menyebar luas, serta program penghijauan bersama tim dan humas masing-masing Desa Nambo dan Desa Unsongi di sejumlah area yang memungkinkan untuk ditanami.
“Pengendalian debu merupakan salah satu hal yang terus menjadi perhatian perusahaan. Kami turun langsung dan melakukan berbagai upaya pengendalian secara rutin. Jadi, tidak benar apabila perusahaan dianggap tidak melakukan apa-apa terhadap persoalan debu,” ujar Ana dengan tegas, Kamis(24/09/2026)
Ia menjelaskan, aktivitas pengolahan batu kapur secara teknis memang memiliki potensi menghasilkan debu. Namun kondisi di lapangan tidak selalu sama setiap harinya dan sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, terutama pada saat kondisi cuaca yang sangat panas dan kering serta hembusan angin yang cukup kencang.
“Dalam kondisi cuaca yang sangat panas, kering dan angin cukup kencang, masih dimungkinkan ada sisa debu yang terbawa angin meskipun upaya pengendalian telah dilakukan. Ini menjadi tantangan bagi kami, apalagi kondisi air di lapangan juga terbatas,” jelasnya.
Keterbatasan air tersebut, menurut Ana, justru menjadi salah satu persoalan serius yang secara aktif terus berusaha dicarikan solusinya oleh perusahaan. Ia mengungkapkan sebuah fakta di lapangan bahwa pihak perusahaan beberapa kali telah berkomunikasi secara langsung dan meminta saran kepada Kepala Desa Unsongi serta masyarakat Desa Nambo dan Desa Unsongi terkait kemungkinan sumber air yang dapat digunakan untuk meningkatkan debit air yang tersedia bagi kebutuhan pengendalian debu perusahaan.
“Ini fakta yang terjadi di lapangan. Kami beberapa kali meminta saran kepada Kepala Desa Unsongi maupun humas masing-masing desa, masyarakat Nambo dan Unsongi mengenai sumber air yang memungkinkan untuk menambah debit air perusahaan. Kami tidak hanya duduk dan menunggu. Kami ikut mencari solusi karena kami menyadari bahwa ketersediaan air sangat penting dalam upaya pengendalian debu,” kata Ana.
Menurutnya, komunikasi intensif dengan pemerintah desa dan masyarakat tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mencari solusi yang lebih efektif, kolaboratif, dan berkelanjutan, bukan bentuk pelepasan tanggung jawab.
“Kalau perusahaan tidak peduli, tentu kami tidak akan sampai turun dan bertanya kepada masyarakat mengenai sumber air yang memungkinkan. Kami justru berusaha mencari bagaimana kebutuhan air untuk penyiraman dapat ditingkatkan,” tambahnya.
Meski harus menghadapi keterbatasan sumber air di lapangan, kata Ana, perusahaan tetap berkomitmen melakukan penyiraman secara rutin dan berbagai langkah pengendalian lainnya tanpa henti.
“Penyiraman rutin dilakukan, blower air dipasang, bagian crusher dan mesin screening kami lakukan penutupan, serta penghijauan juga terus kami upayakan. Ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan kepada masyarakat dan instansi lingkungan hidup,” katanya.
Menurut Ana, perusahaan tidak pernah meminta masyarakat maupun media untuk menutup mata terhadap kemungkinan adanya dampak lingkungan dari aktivitas perusahaan. Namun, ia berharap informasi mengenai hal tersebut harus disampaikan secara utuh, berimbang, dan tidak sepotong-sepotong.
“Kalau memang ada kekurangan, kami siap mengevaluasi dan memperbaiki. Tetapi jangan sampai informasi yang tidak lengkap kemudian menggiring persepsi bahwa perusahaan tidak melakukan pengendalian sama sekali. Itu tidak sesuai dengan apa yang kami lakukan di lapangan,” tegasnya.
PT RUJ juga berharap pemberitaan mengenai aktivitas perusahaan tidak memperkeruh hubungan baik yang selama ini telah dibangun dengan susah payah bersama masyarakat sekitar. Ana menegaskan bahwa perusahaan sangat menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan keluhan maupun kritik. Namun, perusahaan juga memiliki hak yang sama untuk memberikan penjelasan apabila terdapat informasi yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kami menghormati kritik dan aspirasi masyarakat. Kami juga tidak anti terhadap pengawasan. Tetapi kami berharap jangan sampai informasi yang belum diverifikasi secara menyeluruh justru membuat hubungan masyarakat dengan perusahaan menjadi keruh,” ujarnya.
Ia menambahkan, PT RUJ tetap berkomitmen penuh melakukan pengendalian terhadap dampak lingkungan dari aktivitas operasionalnya dan sangat terbuka terhadap evaluasi, sidak, maupun pengawasan dari pemerintah maupun masyarakat demi kebaikan bersama.
(Yohanes)


