Bengkulu Utara, Rakyatbersuara.com- Kondisi Jembatan Lubuk Kuto di Desa Lubuk Durian kini semakin memprihatinkan. Besi plat yang dahulu dipasang oleh anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Roger, sebagai upaya sementara perbaikan, kini sudah berantakan dan rusak parah. Dari pantauan langsung awak media Rakyat Bersuara, terlihat lobang besar menganga, bahkan air sungai sudah tampak jelas dari sela-sela besi kerangka jembatan.(08/10/2025)
Kerusakan ini diduga kuat akibat aktivitas truk pengangkut batu gajah yang setiap hari melintasi jembatan tanpa kendali. Kendaraan berat tersebut tak hanya memperparah kondisi fisik jembatan, tetapi juga menimbulkan keresahan bagi masyarakat pengguna jalan. Warga menilai, ada pembiaran sistematis dari pihak berwenang, bahkan muncul dugaan kerjasama tersembunyi antara pihak terkait dengan pengusaha proyek batu gajah.
“Kami sudah sering lapor, tapi tidak ada tindakan. Jembatan ini makin parah setiap hari. Kalau dibiarkan, bisa-bisa putus total,” ujar salah satu warga setempat dengan nada kesal.
Fenomena ini bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi mencerminkan lemahnya ketegasan pemerintah daerah dalam menegakkan aturan terhadap pengusaha besar. Dalam konteks politik dan ekonomi daerah, terlihat jelas adanya asimetris kekuasaan, di mana kepentingan rakyat kecil kalah oleh kepentingan pengusaha besar.
Dari sisi sosial dan budaya, kondisi ini juga menggambarkan hilangnya rasa tanggung jawab kolektif dan etika kepemimpinan daerah. Jembatan bukan sekadar sarana fisik, melainkan urat nadi ekonomi dan akses pendidikan bagi masyarakat sekitar. Bila jembatan ini rusak total, maka roda ekonomi warga, akses anak sekolah, hingga kegiatan sosial budaya akan lumpuh.
Secara akademis, kerusakan infrastruktur seperti ini dapat dijadikan bahan kajian penting tentang manajemen kebijakan publik, tata kelola pembangunan daerah, dan pengawasan proyek tambang. Apalagi jika ditemukan indikasi bahwa aktivitas pertambangan batu gajah tidak disertai izin dan AMDAL yang jelas, maka potensi pelanggaran hukum dan lingkungan bisa sangat besar.
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun pihak pengelola proyek batu gajah. Sementara itu, warga terus menunggu langkah cepat dan tegas agar Jembatan Lubuk Kuto tidak menjadi saksi bisu ketidakpedulian pemerintah terhadap keselamatan rakyatnya sendiri. (Subroto)















