Morowali – Setiap tanggal 24 September, bangsa ini memperingati Hari Tani Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan pangan. Namun bagi masyarakat Kabupaten Morowali, momentum 24 September 2026 justru menghadirkan refleksi yang getir dan pahit.
Di tengah gemerlap narasi hilirisasi nikel dan pertumbuhan ekonomi daerah yang dipuji melonjak drastis, sektor pertanian Morowali justru sedang sekarat dan mengalami penindasan struktural yang secara perlahan mengancam masa depan kedaulatan pangan lokal.
Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morowali (IP2MM) Ikhtiar, memandang bahwa orientasi pembangunan daerah hari ini berjalan sangat timpang dan kehilangan arah keberpihakan.
Morowali memang kerap dipuji karena kontribusi besarnya terhadap perekonomian nasional, tetapi di balik gagahnya menara cerobong pabrik yang berdiri, lahan-lahan pertanian warga terus menyusut secara masif akibat alih fungsi lahan yang tak terkendali. Para petani lokal kian terdesak, kehilangan akses terhadap tanah subur yang menjadi sumber hidupnya, serta harus berhadapan langsung dengan pencemaran lingkungan yang merusak sumber air irigasi dan membunuh kesuburan tanah mereka.
Kondisi ini telah menciptakan ketergantungan pangan yang sangat rapuh dan berbahaya. Sungguh sangat ironis ketika daerah yang kaya raya akan sumber daya alam, yang tanahnya dikeruk siang dan malam, justru harus mendatangkan beras dan kebutuhan bahan pokok dari luar daerah hanya untuk memberi makan masyarakatnya sendiri.
Sektor pertanian dibiarkan berjalan tertatih-tatih tanpa perlindungan regulasi yang benar-benar berpihak, tanpa bantuan teknologi modern yang merata, dan tanpa jaminan harga pasar yang adil bagi hasil panen warga. Petani dibiarkan berjuang sendiri di tengah kepungan industri.
Dampak destruktif dari ketimpangan ini juga merambah dan meracuni generasi muda. Dominasi industri pertambangan yang menawarkan iming-iming upah instan telah mengikis habis minat pemuda Morowali untuk melirik sektor agraria. Pertanian kini dianggap tidak lagi memiliki masa depan, pekerjaan yang tidak menjanjikan, karena minimnya perhatian pemerintah dalam membangun ekosistem pertanian modern yang berbasis pemuda.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa koreksi mendasar dan tanpa keberanian politik dari pemerintah daerah, maka Morowali akan kehilangan petani secara perlahan dan pada akhirnya akan menghadapi krisis pangan di atas tanahnya sendiri yang subur.
Morowali tidak boleh hanya dikenang sebagai kawasan pengerukan tambang yang pada akhirnya hanya menyisakan kerusakan ekologis dan lubang-lubang menganga. Nikel akan habis pada waktunya, cerobong pabrik akan padam, tetapi tanah pertanian adalah penopang kehidupan yang harus dirawat dan dijaga lintas generasi.
Sudah saatnya pemerintah daerah kembali membumi, turun melihat lumpur sawah, dan memprioritaskan perut rakyatnya sendiri, bukan hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang semu dan menipu di atas kertas.(*)


