Morowali, rakyatbersuara.com – Upaya salah satu wartawan media ini untuk mendapatkan tanggapan dari Emil selaku Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Morowali, terkait persoalan kerusakan jalan di Ambunu, menemui hambatan yang serius. Saat wartawan mencoba menghubungi Emil melalui aplikasi WhatsApp, nomor wartawan tersebut malah diblokir. Tidak menyerah, wartawan mencoba menghubungi Emil melalui panggilan telepon pada Selasa, 21 Januari 2025, tetapi respons yang diterima justru memicu kontroversi.
Dalam percakapan via telepon, Emil menyampaikan tanggapan bernada emosi. “Itu hal yang memfitnah orang, apa maksud saudara membuat cerita begitu kenyang? Kalau benar ada indikasi korupsi, lapor saja ke polisi. Apa susahnya?” ujarnya dengan nada tinggi, merujuk pada pemberitaan sebelumnya yang menyebut pernyataan “kenyang sekali” dari Emil, yang ia tulis sendiri dalam percakapan WhatsApp sebelumnya.
Pernyataan ini mengundang tanda tanya besar. Pasalnya, baik warga Ambunu maupun pihak media tidak pernah menyinggung atau menulis bahwa Emil atau pihak Dinas Perhubungan diduga melakukan korupsi. Masyarakat hanya mengeluhkan dump truk 10 roda milik PT. Indonesia Huabao Industrial Park( IHIP) perusahaan yang beroperasi di wilayah Topogaro, Tondo, Ambunu Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang berlalulalang di jalan Trans Sulawesi yang membawa material untuk proyek bandara.
Emil juga menegaskan bahwa ia sudah berencana untuk turun ke lapangan. “Saya sudah bilang nanti akan turun ke lapangan, jadi maunya bagaimana? Saya disuruh itu tahan mobil?” kata Emil dengan nada yang terdengar tersinggung. Ia pun menambahkan bahwa persoalan jalan nasional merupakan kewenangan Balai Jalan. “Kalau jalan nasional itu di balai. Saya sudah bilang ke balai jalan Palu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Emil mempertanyakan terkait dampak “Kamu tulis di media berdampak, dampaknya apa? Kalau materialnya jatuh itu berdampak, kalau tidak jatuh bagaimana? Mereka itu mengangkut material untuk mengejar target bandara. Kalau kita mau halangi, bagaimana?” ujarnya, membela aktivitas pengangkutan material yang selama ini diprotes warga karena menyebabkan kerusakan jalan.
Emil juga mengungkapkan kekesalannya terhadap pemberitaan soal pernyataan “kenyang sekali” yang sebelumnya ia tuliskan. “Siapapun akan tersinggung kalau kamu bilang kenyang-kenyang. Memang kamu lihat saya makan uangnya itu perusahaan? Apa dasarnya kamu tulis kenyang-kenyang? Itu sudah pencemaran nama baik,” ucapnya dengan nada marah, meski pernyataan tersebut merupakan kutipan langsung dari percakapan WhatsApp sebelumnya pada Senin, 20 Januari 2025 yang ia tulis sendiri.
Kemudian Emil juga menuding wartawan tidak mencari solusi, melainkan masalah. “Saudara itu mencari masalah, bukan mencari solusi,” katanya sebelum menutup panggilan telepon secara sepihak.
Pernyataan dan sikap Emil ini memicu reaksi keras dari masyarakat, terutama warga Ambunu yang menilai respons kepala dinas yang emosional tidak mencerminkan semangat pelayanan publik yang seharusnya mengutamakan solusi bagi permasalahan masyarakat. (Wiwi)















