MOROWALI — Sebulan penuh Morowali diburu. Hasilnya: 310.470 batang rokok ilegal tumbang.
Itu catatan Bea Cukai Morowali selama Operasi “Nusa Maleo”, 5–30 Juni 2026. Bukan angka main-main. Total barang sitaan ditaksir Rp489,4 juta. Potensi kerugian negara yang berhasil dipotong: Rp325,4 juta. Uang negara yang nyaris lari ke kantong bandar cukai.
Operasi ini bukan kerja sendirian. Serentak, seluruh Bea Cukai se-Sulawesi Bagian Utara turun gunung. Fokusnya satu: kejar, geprek, sita. Patroli diperketat, pemeriksaan digas. Targetnya jelas, rokok tanpa pita cukai atau pita palsu yang merusak pasar.
Dalam sebulan, Bea Cukai Morowali mencatat 35 kali penindakan. Artinya hampir tiap hari ada yang ketangkap basah.
Tapi Bea Cukai bilang, menindak saja tidak cukup. Mereka juga turun ke pasar dan kampung. Edukasi. Buka mata warga soal ciri rokok ilegal dan efeknya: negara buntung, pedagang jujur mati langkah.
Kepala Kantor Bea Cukai Morowali, Muhariadi Angkat, tidak main kata manis.
“Jangan beli. Jangan jual. Jangan edarkan rokok ilegal,” tegasnya. Menurutnya, masyarakat adalah mata dan telinga terdepan. Tanpa partisipasi warga, pengawasan cukai akan pincang. Selasa(30/06/2026)
Ke depan, Morowali tidak akan melonggarkan kendali. Sinergi dengan aparat, pemda, pelaku usaha, dan warga akan diperkuat. Tujuannya satu: patuh cukai, negara aman, usaha sehat.
Nusa Maleo boleh selesai 30 Juni. Tapi perburuan rokok bodong, belum.(*)


