KONAWE – Katanya pakai “Kearifan Lokal”. Faktanya? Ambruk.
Belum genap setahun dikerjakan, Talud Penahan Tanah/Tebing proyek BPBD Konawe di Kecamatan Anggalomoare, Kabupaten Konawe, sudah runtuh parah. Sisa puing dan pasangan batu berserakan. Dan yang paling gila: talud itu tepat berada di belakang gedung sekolah.
Rp800 juta lebih uang negara dari APBN Hibah 2024 lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya ancaman. Ancaman longsor. Ancaman nyawa siswa.
“Sesuai Perencanaan” Kata Kabid, Faktanya Cacat
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang BPBD Konawe justru dengan entengnya berdalih. Via WhatsApp, ia menyebut pekerjaan itu “sudah sesuai perencanaan awal dengan metode Kearifan Lokal”.
Kearifan lokal macam apa yang fondasinya tidak tertanam?
Hasil investigasi lapangan http://PORTALTERKINI.COM menemukan sejumlah kejanggalan fatal:
1. Kuku Talud Fiktif: Kuku penahan talud diduga tidak tertanam sama sekali. Ia hanya “berdiri” di atas pasangan lama.
2. Pembesian Asal-asalan: Jarak behel pembesian diduga tidak sesuai spesifikasi teknis konstruksi.
3. Mutu Dipertanyakan: Baik kualitas material maupun kuantitas pekerjaan patut diduga dikorupsi.
Ini bukan kearifan lokal. Ini pembodohan lokal.
Sekolah di Ujung Tanduk
Lokasi proyek berada di titik ketinggian, tepat di belakang rumah sekolah. Ketika hujan deras datang, siapa yang menjamin tembok sekolah tidak ikut terseret? Siapa yang bertanggung jawab jika nyawa anak-anak jadi taruhannya?
Anggaran Rp800 juta lebih itu bukan uang pribadi. Itu uang rakyat. Uang APBN. Tapi yang dibangun adalah bom waktu.
BPK Diminta Turun Tangan
Dengan kerusakan separah ini, publik berhak curiga. Ada apa di balik proyek BPBD Konawe?
Kami mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk segera melakukan audit investigasi menyeluruh terhadap BPBD Kabupaten Konawe. Usut tuntas. Bongkar siapa kontraktornya, siapa pengawasnya, dan kemana larinya uang Rp800 juta itu.
Karena jika dibiarkan, “Kearifan Lokal” akan jadi dalih baru untuk mengubur mutu, mengubur anggaran, dan mengubur keselamatan warga. ( Manton)


